Kebiasaan lima ini merupakan prinsip komunikasi empatik. “ Berusaha mengerti terlebih dahulu” memerlukan paradigma yang sangat mendalam, karena kita biasanya berusaha lebih dahulu untuk dimengerti. Kebanyakan orang tidak mendengar dengan maksud untuk mengerti, tapi mereka mendengar untuk menjawab dengan menyaring segalanya dengan paradigma mereka sendiri dan membacakan autobiografi mereka ke dalam kehidupan orang lain.
Begitulah yang terjadi dengan banyak orang dimana kita dipenuhi dengan kebenaran kita sendiri, autobiografi kita sendiri. Kita ingin dimengerti sehingga percakapan kita menjadi monolog kolektif dan kita tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya sedang berlangsung dalam diri orang lain.
Ketika orang lain berbicara, kita biasanya “mendengarkan” dalam salah satu dari empat tingkat. Kita mungkin mengabaikan orang tersebut dengan tidak benar-benar mendengarkan. Kita mungkin berpura-pura mendengarkan. Kita mungkin mendengarkan secara selektif dengan mendengar bagian-bagian tertentu saja, tau kita mendengar secara atentif dengan menaruh perhatian dan memfokuskan energi pada kata-kata yang diucapkan. Hal inilah yang disebut sebagai mendengar dengan empatik sebagai konsep komunikasi empatik.
Yang dimaksud mendengar secara empatiik adalah mendengar dengan maksud untuk mengerti atau berusaha terlebih dahulu untuk mengerti. Dengan mendengar secara empatik berarti kita masuk dalam kerangka acuan orang lain. Dengan memandang keluar melewati kerangka acuan itu maka kita melihat dunia dengan cara mereka melihat dunia sehingga kita mengerti paradigma dan persaaan mereka. Mendengarkan empatik memerlukan jauh lebih banyak dari hanya sekedar merekam, merenungkan, atau bahkan mengerti kata-kata yang diucapkan. Dalam mendengar empatik kita mendengar dengan telingan kita, namun yang lebih penting lagi adalah mendengarkan dengan mata hati kita dimana diperlukan perasaan dan makna.
Ketika kita mendengarkan secara emapatik, secara tidak langsung kita seolah-olah telah memberikan semacam udara psikologis kepada orang yang sedang kita dengarkan. Setelah kebutuhan vital tersebut terpenuhi, barulah kita dapat berfokus pada pemberian pengaruh atau pemecahan masalah.
Mendengar secara empatik membutuhkan waktu, tetapi tidak sebanyak waktu yang dibutuhkan untuk mundur dan memperbaiki kesalahpahaman dalam komunikasi. Seorang pendengar empatik yang cerdas akan cepat membaca apa yang sedang terjadi secara mendalam dan tepat, dan dapat memperlihatkan penerimaan dan pengertian sedemikian rupa sehingga orang merasa aman untuk membuka lapis demi lapis masalahnya.